Motherhood Pregnancy

Puasa Bagi Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

May 30, 2017

Assalamualaikum, Selamat menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan.

Nggak terasa cepat sekali ya. Tiba-tiba saja kita sudah dipertemukan lagi dengan bulan penuh cinta ini. Di ramadhan tahun lalu, saya sedang hamil usia 12weeks. Saat-saat masih suka mual-mual dan bawaannya ingin ke kasur terus. Dan di ramadhan tahun ini, si bayi yang dulu masih di perut sudah mulai bisa teriak-teriak, ketawa-ketiwi, jambak-jambak rambut saya yang menginjak usia 4 bulan.

Bulan Ramadhan selalu menjadi bulan favorit bagi saya. Entah mengapa rasanya berkumpul energi-energi positif di sekitar saya. Namun di dua ramadhan terakhir ini, saya tidak menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Sebenarnya, ibu hamil dan menyusui wajib puasa nggak sih?

Untuk ibu hamil, beberapa dokter obgyn memang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang membolehkan untuk berpuasa, namun ada yang sangat protektif menyarankan untuk tidak berpuasa. Pada aat ramadhan tahun lalu, saya mengambil pilhan tidak berpuasa, dikarenakan kehamilan masih sangat awal yaitu di trimester pertama. Di mana, pembentukan otak dan jantung janin sedang terjadi, sehingga janin memerlukan asupan yang cukup. Saya sempat berpuasa di hari pertama, namun hanya kuat sampai jam 10 pagi. Akhirnya mama dan suami saya menyuruh untuk tidak berpuasa dulu, karena memang mengkhawatirkan kondisi janin apabila kurang asupan.

Berbeda halnya dengan teman saya, pada saat ramadhan tahun lalu, berada di usia kehamilan akhir trimester kedua dan akan masuk ke trimester ketiga. Memang masa-masa itu adalah masa-masa nyamannya kehamilan. Jadi, dia tetap berpuasa full selama 30 hari. Luar biasa.

Sebenarnya bagi ibu hamil, puasa atau tidak yang menentukan adalah kondisi kesehatan sang ibu dan sang janin. Jangan lupa untuk tetap berkonsultasi dengan dokter obgyn agar kita benar-benar mengetahui kesiapan tubuh kita dan janin kita.

Sama halnya dengan ibu menyusui. Ibu menyusui juga disarankan untuk tidak berpuasa, karena dikhawatirkan minimnya asupan yang masuk sehingga bayi menjadi terganggu. Hal ini dikhususkan untuk ibu menyusui dengan ASI Eksklusif, di mana bayi masih berusia di bawah 6 bulan (belum mendapatkan MPASI). Jika ibu menyusui namun bayi juga meminum susu formula, atau bayi sudah mendapatkan MPASI, maka jika kondisinya baik, ibu menyusui diperbolehkan untuk berpuasa.

pic source by pinterest

Sebagian ulama meyakini, bahwa ibu hamil dan menyusui yang tidak berpuasa cukup menggantinya dengan mengqadha puasanya saja, apabila ia khawatir terhadap dirinya. Namun ada beberapa yang berpendapat bahwa selain membayar fidyah, sang ibu juga harus mengqadha puasanya, apabila ia khawatir terhadap janin atau anaknya.

Fidyah yang diberikan adalah memberi makan orang yang tidak mampu yang ada di lingkungan sekitarnya. Karena tahun lalu saya tidak berpuasa selama 30 hari, maka saya membayar fidyah untuk makan 30 orang di akhir bulan ramadhan. Pada saat itu, saya hanya menitipkannya kepada suatu lembaga untuk bisa dibayarkan. Namun, sebenarnya yang terbaik adalah apabila kita bisa memberikannya dalam wujud makanan, dan bukan uang.

Bagaimana ukurannya? Ukuran fidyah adalah 1 mud. 1 mud ini adalah satu kali kita memberikan makan kepada orang yang kurang mampu. 1 mud diperkirakan sama dengan 1kg beras, atau sekitar Rp 15,000 jika dikonversi ke rupiah untuk sekali makan.

Dan pemberian fidyah ini, harus diberikan setelah hari ramadhan itu berlalu. Misal kita mau memberikan di akhir bulan ramadhan maka harus di hari terakhir untuk berbuka puasa. Atau jika kita ingin membayarnya mingguan, maka di akhir minggu baru kita bayarkan untuk 1 minggu yang telah terlewati. Fidyah tidak bisa diberikan di awal bulan ramadhan.

Untuk lebih lengkapnya mengenai dalil fidyah, bisa dibaca di sini.

Semoga seluruh ibadah di bulan ini bisa menjadi berkah untuk kita semua ya..

Amin ya robbal alamin…

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply ikoko June 7, 2017 at 4:26 am

    Bagus mba tulisannya, pelajaran buat saya.

  • Leave a Reply