Browsing Category

Love & Family

Beauty Motherhood

Organic Skin Care Routine versi Anindita

June 21, 2017

Selamat Pagi,

Kali ini saya ingin membahas skin care yang saya gunakan sehari-hari. Sebenarnya tulisan ini adalah permintaan dari beberapa orang di sekitar saya, yang ingin sedang mencoba beralih ke kosmetik atau skin care dengan bahan organic. Yap! Baru sebulan ini, saya memutuskan untuk menggunakan perawatan wajah yang berbahan organic. Organic di sini, adalah yang pure organic dan bersetifikat resmi organic. Saya sempat mencari-cari produk apa yang memang bersetifikasi pure organic dan ringan di kantong (soalnya untuk barang-barang pure organic biasanya berat di ongkos, hehe). Akhirnya saya menemukan beberapa merk ini, dan alhamdulillah…saya cocok dan memang benar, kulit saya terasa jauh lebih sehat.

Sebenarnya, saya setuju dengan Miranda Kerr yang bilang kalau yang penting adalah bukan semuanya harus organic. Jika belum bisa menggunakan semua produk organic, cobalah untuk membuatnya balance. Jadi memang saya saat ini hanya menggunakan skin care saja yang pure organic. Untuk kosmetik, saya masih menggunakan merk-merk biasa (yang pasti) masih banyak chemical things-nya. Insya Allah bertahap, untuk bisa hijrah ke cometics organic.

Yang saya bahas ini adalah urutan dalam menggunakan skincare sehari-hari. Biasanya saya menggunakannya di pagi hari (kalau lagi rajin, malam hari juga pakai, hehe).

1) Make-up Remover

Yak. Yang pertama adalah Make Up Remover. Sebenarnya saya sempat ragu untuk memakai bahan-bahan yang organic untuk menghapus make-up saya. Di mana, dalam bayangan saya, produk yang non-organic pasti bisa lebih bersih dalam menghapus make up saya. Namun ternyata saya salah! Saya mencoba makeup remover berbentuk oil dari Organic Supply. Minyak yang dipakai adalah Minyak dari Almond atau Sweet Almond Oil.

Cara pakainya adalah dengan mengusapkan minyak ini di area wajah dan leher, kemudian kita bisa lap dengan kapas wajah, atau kita basuh dengan air hangat. Make-up benar-benar terhapus dan sangat cocok di kulit saya. Sweet Almond Oil ini juga dapat digunakan sebagai pengompres kantung mata, untuk menyamarkan dark circle yang ada di bawah mata kita.

Saya akan review produknya secure detail di postingan berikutnya ya…

 

2) Exfoliating Scrub

Exfoliating Scrub adalah pembersih muka yang dipakai 2-3 hari sekali. Saya menggunakan produk dari Australia, yaitu Sukin. Detoxifying Facial Scrub dari Sukin yang saya pakai adalah yang seri Super Greens. Produk ini aman digunakan untuk ibu hamil, menyusui dan benar-benar pure organic.

Saya biasa menggunakan scrub ini di wajah 2-3 hari sekali. Setelah menggunakan make up remover Sweet Alomnd Oil, saya membilasnya dengan air hangat, kemudian saya menggunakan scrub ini dengan jumlah yang minim, diusap ke wajah dan leher, serta saya melakukan massage agar butiran scrubnya bisa mengangkat sel-sel kulit mati dari wajah dan leher. Setelah itu, saya basuh dengan air dingin, dan wajah benar-benar sangat segar dan sehat.

3) Facial Wash

Setelah menggunakan Scrub pada wajah dan leher, selanjutnya yang saya gunakan adalah certified organic facial wash dari Martha Tilaar, produk lokal dari Indonesia. Solusi adalah produk organik bersertifikasi pertama kali di Indonesia. Sudah banyak yang minta saya me-review produk ini, namun saya belum sempat. Jadi sekilas saja saya ceritakan di sini ya.

Solusi memiliki produk yang sangat banyak, dari facial wash, moisturizer, sampai krim malam. Facial wash ini cukup friendly di wajah saya. Tidak berbusa, tidak licin setelah dibilas namun tidak terlalu kesat seperti membuat wajah ketarik-tarik.

4) Toner

Setelah menggunakan facial wash, ritual selanjutnya adalah menggunakan Face Toner. Di sini saya juga menggunakan Face Toner dari Solusi. Toner ini memberikan efek menyegarkan setelah membersihkan wajah dengan menggunakan Facial Wash. Sebelum menggunakan Toner dari Solusi, saya menggunakan FTE dari brand SKII. Sebenarnya, SKII aman digunakan untuk ibu hamil dan menyusui, namun memang tidak pure organic. Karena FTE saya masih ada setengah botol, maka untuk toner saya menggunakannya bergantian.

5) Face Serum

Ini adalah holygrail product versi saya ! Must-have item banger but kita yang ingenue beralih ke organic skincare. Saya benar-benar merasakan mandate dari Facial Recovery Serum dari Sukin yang serial Super Greens ini. Benar-benar makanan yang sangat baik untuk kulit saya. What a brilliant Super Food !

Serum ini dipakai setelah membersihkan kulit wajah dan leher dengan toner. Pemakaian serum bisa dilakukan di pagi hari dan malam hari, dengan diikuti penggunaan moisturizer.

6) Moisturizer

Moisturizer yang saya pilih adalah moisturizer dari Super Greens Sukin. Setelah pemakaian selama 1 bulan, yang saya rasakan kulit wajah saya terasa lebih bersih, cerah, sehat dan tidak se-kering biasanya. Ini Holy Grail Product, dan must-have item kedua versi saya.

Moisturizer ini saya bilang cukup ringan dan tidak seberat krim-krim biasanya. Kemasannya dibuat dalam bentuk pump, sehingga lebih irit dan higienis menurut saya.

Setelah menggunakan moisturizer, saya biasanya langsung menggunakan make-up sehari-hari saya. Saya akan mereview produk makeup sehari-hari yang saya pakai di postingan berikutnya ya.

Selain urutan skin care di atas, saya terkadang juga menggunakan tambahan produk lain seperti face mask dan rosehip oil. Sayangnya untuk face mask, saya tidak bisa memastikan produk yang saya pakai adalah produk yang benar-benar organic.

Rosehip Oil

Untuk Rosehip Oil, saya menggunakan produk dari Trilogy. Rosehip Oil memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah menghilangkan garis-garis halus atau kerutan sebagai anti-aging. Karena merawat kulit itu tidak harus dari usia di atas 30 tahun. Sedari sekarang, kita juga bisa menggunakan produk ini, agar kulit kita tetap sehat.

Saya juga menggunakan oil ini untuk stretch mark yang ada di tubuh saya pasca melahirkan. Mungkin tidak benar-benar menghilangkan, namun oil ini bisa mengurangi dan menyamarkan bekas stretch mark tersebut.

Saya biasanya menggunakan rose hip oil ini ketika baru bangun tidur. Seusai shalat shubuh, biasanya sebelum memakai produk apapun, saya meneteskan 4 tetes oil ini di bagian dahi, pipi kanan, kiri dan dagu, kemudian saya oleskan ke wajah saya sambil memijatnya secara perlahan. Setelah itu, sekitar 30 menit kemudian, saya baru membersihkan wajah saya dengan rutinitas seperti di atas.

Oya, saya banyak sekali dibantu oleh admin dari Benscrub. Menurut saya, customer service mereka super-helpful dan benar-benar membantu saya dalam decide produk apa yang cocok untuk saya. Karena saya benar-benar menginginkan yang pure organic.

Sekian Skin Care Routine Tips dari saya, semoga bisa bermanfaat yaa…

Have a Nice Skin,

 

xoxo.

 

Motherhood

Newborn Photoshoot? Hmm …

June 7, 2017

Belakangan ini, foto adalah sesuatu yang sangat wajib dalam kehidupan kita. Mulai dari graduation, foto lamaran, pre-wedding, wedding, maternity-shoot, bahkan ada yang membuat birth-process photo hingga newborn-photoshoot.

Sebenarnya sudah sejak lama saya agak resah dengan hal ini. Newborn Photoshoot. Meskipun saya juga memfoto baby saya ketika berusia 1 bulan, namun itu bukan dalam suatu sesi photoshoot khusus melainkan pada saat Aqiqah.

Banyak sekali orang-orang di sosial media share foto-foto bayi mereka ketika baru lahir (usia hitungan hari) sudah diikutkan photoshoot. Dipakaikan baju macam-macam (kadang tidak dipakaikan baju, demi mengejar tema kostumnya), di atas karpet berbulu, dan bahkan yang paling bikin saya sedih itu badan bayinya sampai ditekuk-tekuk, dengan gaya bertopang dagu dan lain-lain.

Mungkin saya termasuk orang tua yang sangat konvensional ya. Tidak modern. Dan memang pada saat saya maternity shoot kemarin, saya sudah diceramahi oleh photographer saya, from a to z tentang newborn photoshoot. Bahwa hal itu tidak apa-apa, karena tubuh bayi dibawah 14 hari masih sangat lentur jadi bisa dibentuk-bentuk semau kita.

Tapi saya big no banget dengan yang namanya newborn photoshoot. Gak tega banget rasanya.

Did you know? Bayi umur beberapa hari di dunia ini pasti masih cukup sulit menyesuaikan suhu antara di dalam kandungan dengan dunia di luar kandungan. Dia pasti lebih sering merasa kedinginan. Saya nggak membayangkan bagaimana rasanya mereka, tidak dipakaikan baju, hanya pakai celana saja dan biar dikata lucu, dipakaikan dasi, syal, atau ornamen-ornamen lainnya biar kece.

Oh My Lord… belum lagi mereka dipoto dimasukkan ke keranjang, atau di atas karpet berbulu-bulu yang kita tidak bisa jamin apakah steril atau tidak.

Saya memaklumi, bahwa setiap orang tua ingin sekali mengabadikan kehidupan anak-anaknya sejak kecil. Namun, saya tetap kurang paham esensi dari newborn-photoshoot yang marak belakangan ini.

Mungkin jika ingin lebih safe, para orang tua bisa memfoto anaknya di rumah saja, dengan tetap dipakaikan baju yang hangat dan nyaman, di tempat yang aman.

Intinya, mereka masih sangat kecil, jangan cuma demi foto kece, kita membiarkan mereka merasa tidak nyaman.

Saya sendiri berencana untuk memfoto anak saya ketika ia sudah bisa duduk sendiri atau berdiri. Ketika ia sudah benar-benar nyaman dengan dirinya dan lingkungannya sendiri.

Semoga suara hati saya ini bisa memberikan insight baru, bahwa dunia tidak seindah timeline instagram.

🙂

Pregnancy

Maternity Shoot

June 3, 2017

Kehamilan adalah suatu hal yang sangat indah. Moment-moment selama masa kehamilan pasti akan kita rindukan suatu saat nanti. Kebanyakan orang saat ini, ingin mengabadikan moment tersebut dalam sebuah foto, yang biasa kita kenal dengan maternity shoot.

Saya mengambil maternity shoot di usia 32weeks atau 8 bulan. Saya sengaja mengambil di minggu ini, karena jika pemotretan diambil di minggu ke-36 atau masuk 9 bulan, maka tubuh kita sudah sangat susah bergerak dan mudah lelah. Saya memilih tempat indoor atau di studio, dengan alasan ketika hamil kemarin saya mudah sekali “kepanasan” alias gerah.  Jadi saya nggak membayangkan pemotretan di padang ilalang, pantai atau kebun bunga, dengan gaun dan bulu mata palsu. (Membayangkannya saja sudah ngeri, hehe).

Pada saat maternity shoot kemarin, saya memiliki 4 konsep yang berbeda, yaitu 2 konsep memakai gaun dan 2 konsepnya lagi memakai baju casual. Saya memang sengaja menjahit gaun di penjahit langganan saya. Saya menjahit kira-kira di usia 24weeks, di mana dengan estimasi akan dipakai di usia 8 bulan. Saya nggak ngerti gimana, yang jelas penjahit saya ini super jago. Karena ketika di usia 32weeks gaun itu saya pakai, alhamdulillah cukup, dan ngepas di badan saya.

Untuk baju casual dan baju suami, saya membelinya di salah satu mall di Jakarta ketika saya pergi training dan selebihnya saya beli online ! Yes, of course. Selama hamil saya jarang sekali pergi jalan-jalan, jadinya kalau mau beli apa-apa belinya online saja di marketplace langganan saya, hehe.

Maternity shoot kemarin, kami lakukan di Purwokerto. Karena saya stay di Banjarnegara, perjalanan ke Purwokerto memakan waktu 1,5-2 jam perjalanan menggunakan mobil. Saya dan suami stay-cation di Hotel Santika 3 hari 2 malam, wisata kuliner keliling Purwokerto, dan maternity shoot ! Jadilah ala-ala Babymoon.

Babymoon kami sungguh sangat sederhana. Sempat kepikiran untuk pergi ke Bali, tapi berhubung suami sedang padat pekerjaan, dan saya juga tidak bisa meninggalkan kantor lama-lama, akhirnya kami memutuskan untuk stay-cation di hotel saja lah. Simpel, tapi tetap happy.

Ini adalah beberapa hasil foto Maternity Shoot kami.

 

 

 

 

 

 

Venue dan Photographer : De Amour Photography

MUA : Anita Lie (De Amour)

 

Semoga bisa menginspirasi 🙂

Motherhood

Penyakit Go Away!

May 30, 2017

Kebiasaan meminum honeylemon-shoot akan mulai kami implementasikan di keluarga kecil kami. Perasan setengah buah lemon + 1 sendok teh madu + air hangat, menjadi minuman untuk kami sebelum beraktivitas. Sebenarnya biasanya orang-orang akan langsung meminum perasan lemon dengan madu saja. Namun karena saya dan suami memiliki sakit maag, maka terkadang terasa perih di lambung kami. Akhirnya kami tambahkan sedikit air hangat agar tidak terlalu asam dan kami hanya meminumnya seminggu sekali sebagai awalan.

Mengapa honeylemon-shot? Karena minuman ini diyakini dapat menjaga kesehatan liver dan memperkuat stamina tubuh agar tidak mudah terkena penyakit. Kalian bisa browsing sejuta manfaat buah lemon lainnya di artikel-artikel lainnya. Intinya, kebiasaan ini akan membuat hidup kami menjadi lebih sehat.

Apa yang mendasari ingin hidup sehat?

Jadi ceritanya, 3 hari kemarin saya terkapar di tempat tidur. Masuk angin berat. Maag kumat dan demam. Beruntunglah suami sedang di rumah, jadi si kakak ada yang jagain. Ini adalah kali pertama saya sakit semenjak saya melahirkan. Saya sangat sedih ketika sakit, karena biasanya berat badan saya langsung meluncur turun. Benar saja, baru sakit 3 hari, berat badan saya turun 3 kilogram. Sedihnya bukan kepalang.

Suami saya, juga punya penyakit maag sama seperti saya. Ia tidak bisa telat makan  atau badan terlalu lelah. Namun suami saya adalah orang yang cukup care dengan badannya sendiri. Ia akan sadar ketika memang badannya sudah nggak enak dan segera istirahat. Beda halnya dengan saya, yang kadang susah di-rem kalau sudah terlanjur asyik, hehe.

Kakak Einer. Anak laki-laki kami yang baru berumur 4 bulan. Waktu berumur 3 bulan pernah sakit gangguan pencernaan. Ya, namanya anak pertama sudah barang pasti kami jadi deg-degan dan ketakutan tidak karuan.

Akhirnya…

Kami memutuskan untuk, yuk sebisa mungkin mulai hidup sehat!

Pertama adalah asupan makanan.

Yang jelas, Kakak Einer adalah bayi yang cukup sensitif terhadap makanan yang saya makan. Ya, karena saya dan suami pembawa bakat alergi. Sehingga mulai sekarang saya adalah Flexitarian, atau fleksibel vegetarian. Sebisa mungkin saya makan-makanan yang berupa sayur dan buah. Terkadang tetap saya selingi dengan daging sapi. Namun, saya menghindari seafood, daging ayam, dan telur.

Sayur favorit saya adalah daun katuk. Alasan utamanya adalah karena daun katuk merupakan booster ASI paling TOP yang saya percayai semenjak Kakak Einer lahir. Selain alami dan tanpa pengawet, pewarna seperti booster-booster lain yang dijual di pasaran, daun katuk ini adalah makanan yang murah meriah dan mudah didapat.

Mungkin saya akan ceritakan tentang program Eating Clean yang sedang dalam proses mulai di postingan selanjutnya yaa.

Kedua adalah Say yes to Organic Skincare and Cosmetics.

Saya percaya, mungkin ada ratusan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh kita mulai dari sabun, sampo, lotionmakeup removercleanser, toner, sheet-mask, moisturizer, serum, bedak, foundation, lipstik dan lain-lain.

Bagi saya tubuh yang sehat adalah investasi yang sangat mahal harganya. Oleh karena itu, saya mulai meyakinkan diri untuk berpindah ke skincare dan cometics yang organic. 

Produk yang saya pakai sementara ini adalah Sukin, Organic Supply.co, dan RMS Beauty. Nanti akan saya review masing-masing produknya yaa.

Yang ketiga adalah Cinta dan Energi Positif.

Kami yakin penyakit-penyakit itu akan hilang dan lenyap apabila dari diri kita masing-masing selalu dipenuhi oleh cinta dan energi positif dari dan untuk orang-orang di sekeliling kita.

Intinya, positive mindset itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat untuk pergerakan tubuh kita.

Semoga kita semua bisa selalu hidup sehat dengan energi positif ya..

 

Love, xoxo,

 

Anindita.

Motherhood Pregnancy

Puasa Bagi Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

May 30, 2017

Assalamualaikum, Selamat menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan.

Nggak terasa cepat sekali ya. Tiba-tiba saja kita sudah dipertemukan lagi dengan bulan penuh cinta ini. Di ramadhan tahun lalu, saya sedang hamil usia 12weeks. Saat-saat masih suka mual-mual dan bawaannya ingin ke kasur terus. Dan di ramadhan tahun ini, si bayi yang dulu masih di perut sudah mulai bisa teriak-teriak, ketawa-ketiwi, jambak-jambak rambut saya yang menginjak usia 4 bulan.

Bulan Ramadhan selalu menjadi bulan favorit bagi saya. Entah mengapa rasanya berkumpul energi-energi positif di sekitar saya. Namun di dua ramadhan terakhir ini, saya tidak menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Sebenarnya, ibu hamil dan menyusui wajib puasa nggak sih?

Untuk ibu hamil, beberapa dokter obgyn memang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang membolehkan untuk berpuasa, namun ada yang sangat protektif menyarankan untuk tidak berpuasa. Pada aat ramadhan tahun lalu, saya mengambil pilhan tidak berpuasa, dikarenakan kehamilan masih sangat awal yaitu di trimester pertama. Di mana, pembentukan otak dan jantung janin sedang terjadi, sehingga janin memerlukan asupan yang cukup. Saya sempat berpuasa di hari pertama, namun hanya kuat sampai jam 10 pagi. Akhirnya mama dan suami saya menyuruh untuk tidak berpuasa dulu, karena memang mengkhawatirkan kondisi janin apabila kurang asupan.

Berbeda halnya dengan teman saya, pada saat ramadhan tahun lalu, berada di usia kehamilan akhir trimester kedua dan akan masuk ke trimester ketiga. Memang masa-masa itu adalah masa-masa nyamannya kehamilan. Jadi, dia tetap berpuasa full selama 30 hari. Luar biasa.

Sebenarnya bagi ibu hamil, puasa atau tidak yang menentukan adalah kondisi kesehatan sang ibu dan sang janin. Jangan lupa untuk tetap berkonsultasi dengan dokter obgyn agar kita benar-benar mengetahui kesiapan tubuh kita dan janin kita.

Sama halnya dengan ibu menyusui. Ibu menyusui juga disarankan untuk tidak berpuasa, karena dikhawatirkan minimnya asupan yang masuk sehingga bayi menjadi terganggu. Hal ini dikhususkan untuk ibu menyusui dengan ASI Eksklusif, di mana bayi masih berusia di bawah 6 bulan (belum mendapatkan MPASI). Jika ibu menyusui namun bayi juga meminum susu formula, atau bayi sudah mendapatkan MPASI, maka jika kondisinya baik, ibu menyusui diperbolehkan untuk berpuasa.

pic source by pinterest

Sebagian ulama meyakini, bahwa ibu hamil dan menyusui yang tidak berpuasa cukup menggantinya dengan mengqadha puasanya saja, apabila ia khawatir terhadap dirinya. Namun ada beberapa yang berpendapat bahwa selain membayar fidyah, sang ibu juga harus mengqadha puasanya, apabila ia khawatir terhadap janin atau anaknya.

Fidyah yang diberikan adalah memberi makan orang yang tidak mampu yang ada di lingkungan sekitarnya. Karena tahun lalu saya tidak berpuasa selama 30 hari, maka saya membayar fidyah untuk makan 30 orang di akhir bulan ramadhan. Pada saat itu, saya hanya menitipkannya kepada suatu lembaga untuk bisa dibayarkan. Namun, sebenarnya yang terbaik adalah apabila kita bisa memberikannya dalam wujud makanan, dan bukan uang.

Bagaimana ukurannya? Ukuran fidyah adalah 1 mud. 1 mud ini adalah satu kali kita memberikan makan kepada orang yang kurang mampu. 1 mud diperkirakan sama dengan 1kg beras, atau sekitar Rp 15,000 jika dikonversi ke rupiah untuk sekali makan.

Dan pemberian fidyah ini, harus diberikan setelah hari ramadhan itu berlalu. Misal kita mau memberikan di akhir bulan ramadhan maka harus di hari terakhir untuk berbuka puasa. Atau jika kita ingin membayarnya mingguan, maka di akhir minggu baru kita bayarkan untuk 1 minggu yang telah terlewati. Fidyah tidak bisa diberikan di awal bulan ramadhan.

Untuk lebih lengkapnya mengenai dalil fidyah, bisa dibaca di sini.

Semoga seluruh ibadah di bulan ini bisa menjadi berkah untuk kita semua ya..

Amin ya robbal alamin…